Rabu, 12 Agustus 2020

8.9. IBADAH PUASA MEMBENTUK PRIBADI YANG BERTAKWA

 

Materi Pembelajaran Kelas VIII SMP

Oleh: Drs. H. A. Suchaimi, MA

GPAI UPT SMPN 5 Gresik

KOMPETENSI (DASAR PENGETAHUAN)

3.9  Memahami tata cara puasa wajib dan sunah

KOMPETENSI DASAR (KETRAMPILAN)

4.9. Menyajikan hikmah pelaksanaan puasa wajib dan puasa sunah

 

 A. KETENTUAN  PUASA

 

1. Pengertian.

Menurut bahasa (lughawy), kata Puasa dari bahasa arab Shoum atau shiyam, yang berarti imsak atau menahan diri.

Menurut istilah syar’iy, Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar (subuh) sampai terbenamnya matahari (maghrib) dengan ketentuan tertentu.

Orang yang berpuasa harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang meliputi syarat, rukun, sunnah dan hal-hal yang membatalkan puasa, dengan rincian sebagai berikut :

 

2. Syarat Wajib Puasa.

Yang disebut Syarat Wajib Puasa ialah ketentuan-ketentuan yang jika dipenuhi, maka seseorang wajib berpuasa. Jika tidak terpenuhi salah satunya atau seluruhnya, maka tidak wajib berpuasa.

Syarat-syarat Wajib Puasa meliputi :

1). Beragama Islam

2). Baligh

3). Berakal sehat (tidak sedang gila, mabuk, atau hilang akal)

4). Kuat / sanggup Berpuasa

5). Mengetahui masuknya awal bulan / hilal (khusus puasa Romadhon)

 

3. Syarat Sah Puasa.

Yang disebut Syarat Sah Puasa  ialah ketentuan-ketentuan yang jika dipenuhi, maka puasanya menjadi sah, dan jika tidak terpenuhi salah satunya atau seluruhnya, maka puasanya tidak sah.

Syarat Sah Puasa meliputi :

1). Tetap beragama Islam selama berpuasa (jika di tengah berpuasa ia murtad, maka puasanya tak sah)

2). Mumayyis (pintar, artinya dapat membedakan antara baik dan buruk)

3). Suci dari haidh dan nifas (khusus bagi wanita)

4). Berpuasa pada waktunya (yakni di hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa. Bukan di hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, seperti di hari raya idul fitri dan adha)

 

4. Rukun Puasa

Rukun puasa ada dua :

1).  Niat puasa. (Diucapkan di malam harinya, sebelum fajar)

2). Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

 

5. Hal-hal Yang Disunnahkan Dalam Puasa

Hal-hal yang sunnah dilakukan selama menjalankan puasa antara lain :

1). Menyegerakan berbuka puasa (Ta’jil)

2). Makan sahur sesudah tengah malam, terutama menjelang waktu imsak.

3). Berbuka dengan makanan yang manis manis (buah korma dan sejenisnya)

4). Berdo’a ketika berbuka, seperti yang dilakukan Rosululloh SAW :

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللَّهُ

ارتيپا : "يا الله, اونتوءمو اكو بّڤواسا, دان دڠان ريزقي ڤّمبّريانمو اكو بّربوكا. داهاݤا تّلاه هيلاڠ دان سّلوروه اورات توبوه تلاه باساهز موداه-موداهان ديبّري ڤاهالا. إنْ شَاءَ الله "

5). Memperbanyak tilawah al-Quran

6) Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin

7). Memberi makan orang yang berpuasa

8). Menghindarkan diri dari segala ucapan kotor dan perbuatan yang menyakitkan hati orang..

 

6. Batalnya Puasa

Orang yang puasanya batal, maka ia wajib meng-qodho’ (mengganti) puasanya di hari lain.

Hal-hal yang membatalkan puasa antara lain :

1). Makan dan minum dengan sengaja. Jika tidak di sengaja (misalnya lupa), maka puasanya tidak batal.

2). Bersetubuh. Jika bersetubuh sewaktu sedang berpuasa Romadhon, maka ia wajib meng-qadha’ puasanya dan harus membayar kafarat (denda). Kafaratnya ada tiga tingkatan:

a). memerdekan budak. Jika tak mampu memerdekakannya, maka 

b). berpuasa selama dua bulan (60 hari)  berturut-turut. Jika tak mampu melakukannya, maka

c). bersedekah dengan makanan yang mengenyangkan kepada 60 fakir-miskin, tiap orang 1 mud (6 ons).

3). Sengaja mengeluarkan mani/sperma, atau bermesra-mesraan hingga keluar mani.

4). Muntah dengan sengaja..

5). Keluar darah haidh (menstruasi), wiladah (melahirkan), nifas (darah yang keluar akibat melahirkan)

6). Gila.

  

7. Orang-Orang  Yang  Boleh Tidak Berpuasa Romadhon

Orang-orang berikut ini semestinya wajib berpuasa romadhon, akan tetapi ia boleh berbuka atau meninggalkan puasanya karena ada udzur syar’iy:

1). Musafir, yaitu orang yang bepergian jauh ± 80,640 km. Ia wajib mengqodho’ puasanya di hari lain.

2). Orang yang hamil dan meyusui.

a. Jika tidak berpuasa itu alasannya demi kebaikan/kesehatan dirinya, maka ia hanya wajib meng-qodho’ puasanya di hari lain.

b. Jika alasannya demi kebaikan/kesehatan anaknya, maka ia wajib : meng-qodho’ puasanya dan membayar fidyah, yakni memberi makan kepada fakir-miskin (perharinya + 6 ons beras/makanan yang mengenyangkan) sejumlah hari yang ditinggalkan.

3). Orang sakit yang tidak kuat berpuasa, tetapi masih dapat diharapkan kesembuhannya, maka wajib meng-qodho’ puasanya di hari lain.

4). Orang yang tidak kuat berpuasa karena sangat tua, atau karena sakit berkepanjangan (permanen) dan tidak dapat diharapkan kesembuhannya. Baginya, cukup mengganti puasa dengan membayar fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan.4

Begitulah aturan hukum Islam yang begitu sangat luwes memberikan kemudahan-kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan, agar dapat melaksanakan puasa sesuai dengan kemampuannya.

  

8. Macam-Macam Puasa

Dipandang dari segi hukum, puasa ada 4 macam, yakni puasa wajib, puasa sunnah, puasa haram dan puasa makruh.

Puasa wajib meliputi: puasa ramadhan, qodho’, nadzar, dan kafarat. Puasa sunnah meliputi: puasa Senin Kamis;  bulan Syawal;  Tarwiyah; Arafah;  Tasu'a'; ‘Asyura’; bulan Muharram; Baidh / tengah bulan; Dawud; bulan Sya'ban; bulan Rajab. Puasa haram meliputi : hari tasyrik; idul fitri; idul adha; hari syak; wishol.

Pembahasan ini difokuskan pada 2 macam puasa, yakni puasa wajib dan sunnah.

 

9. Hikmah Berpuasa

Allah swt. mewajibkan kita berpuasa karena ada manfaat dan hikmah yang dapat kita peroleh dalam kehidupan kita, diantaranya

1). Keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani.

2). Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah swt.

3). Menjaga kesehatan tubuh.

4). Upaya dalam mengendalikan diri dan hawa nafsu.

5). Meningkatkan kepekaan sosial.

6). Untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

 

 

B. PUASA  WAJIB 

Yang dimaksud Puasa Wajib ialah puasa yang harus dikerjakan. Jika ditinggal-kan maka berdoa. 

 1. Puasa Romadhan

Puasa Romadhon adalah puasa wajib yang harus dikerjakan setiap datang bulan Romadhon, selama sebulan penuh.

Hukum. Puasa di bulan Romadhon merupakan rukun Islam yang keempat dan hukumnya adalah Fardhu Ain atas setiap orang Islam yang mukallaf (baligh, berakal)

Dasar hukum diwajibkanya puasa Romadhon adalah firman Alloh SWT dalam QS Al-Baqarah : 183: 

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ *(سورة البقرة : ۱٨٣ )

ارتيپا : ",واهاي اوراڠ-٢ ياڠ بّريمان, ديواجيبكان اتاس كامو بّڤواسا, سّباݤايمانا ديواجيبكان اتاس اوراڠ-٢ سّبّلوم كامو, اݤار كامو بّر تّقْوَى"

 

Lafazh niat puasa romadhon :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ  أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ فَرْضًا  لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا فَرضو بّسوء ڤاݤي اونتوء مّمّنوهي كّواجيبان بولان رَمَضان كارنا الله تَعالَى"

 

2. Puasa Qodho’

Puasa Qodho’ ialah puasa yang wajib dikerjakan di hari lain sebagai ganti dari puasa romadhon yang batal atau ditinggalkan disebabkan ‘udzur syar’iy seperti musafir, sakit, haid, nifas, dan sebab lain.

Dalil naqlinya Alloh berfirman :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ ألأَيَّامٍ أُخَرَۚ

Artinya:  Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah,[2]: 184) 

Lafazh niat meng-qodho' puasa ramadhan :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا  لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا فَرضو بّسوء ڤاݤي اونتوء مّڠقَضَاء ڤواسا رَمَضان كارنا الله تَعالَى"

 

3. Puasa Nadzar

Nadzar artinya berjanji untuk melakukan sesuatu jika apa yang dicita-citakan tercapai. Misalnya, “Saya akan berpuasa satu hari, jika saya naik kelas”, atau “Jika saya sembuh, saya akan berpuasa tiga hari". Dan ternyata ia naik kelas, atau sembuh, maka ia wajib berpuasa sebanyak hari yang ia janjikan. Jika tidak, maka berdosa.

Nadzar bisa berupa apa saja, asal tidak menyalahi aturan agama, atau tidak berupa kemaksiatan, maka wajib dilaksanakan. Jika berupa kemaksiatan atau melanggar aturan agama, maka tidak boleh dilaksanakan..

Dasar hukum wajibnya puasa nadzar adalah firman Alloh SWT :

..... وَلْيُوْفُوْ نُذُوْرَهُمْ .......

Artinya:... Dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka …”(QS Al-Hajj,[22]: 29)

Rosululloh SAW bersabda :

مَنْ نَذَرَ اَنْ يَطِيْعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ اَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ   يَعْصِهِ

 

Artinya: Barangsiapa bernadzar mentaati Allah, maka hendaklah ia kerjakan. Dan barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, Maka jangan dilakukan” (HR Bukhari dan Muslim)

Lafazh niat puasa nadzar :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ النَّذْرِ فَرْضًا  لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا فَرضو بّسوء ڤاݤي اونتوء مّنونايكان نَذَرْ كارنا الله تَعالَى"

 

4. Puasa Kafarat

Puasa kafarat ialah puasa yang wajib dikerjakan sebagai denda untuk menutupi suatu kesalahan yang dilakukanya, disebabkan karena:

1). Bersetubuh dengan isterinya di waktu sedang berpuasa romadhon (di siang hari). Bentuk Kafarat-nya adalah berpuasa selama 60 hari (dua bulan) berturut-turut.

2). Membunuh orang dengan tidak sengaja. Bentuk Kafarat-nya berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak sanggup,  maka dapat diganti dengan memerdekakan seorang budak.

3). Mengerjakan larangan-larangan Ihram haji. Misalnya berjima’ dengan istrinya; mencukur rambut, mengenakan kain/pakaian  berjahit (bagi lelaki); memotong kuku; memakai wangi-wangian, maka kafaratnya ialah berpuasa selama tiga hari. Jika tidak sanggup, maka  menyembelih seekor kambing, atau memberi makan 60 orang miskin.

4).  Karena merusak sumpah. Bentuk Kafarat-nya berpuasa tiga hari, dan jika tidak sanggup, maka wajib memberi makan 10 orang miskin.

5).  Karena men-dzihar istri. Bentuk Kafarat-nya ialah berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak sanggup, maka memerdekakan seorang budak atau memberi makan 60 orang miskin.

 

Hikmah dari pembayaran kafarat adalah pemeliharaan Syariat Islam, disamping untuk membersikan jiwa dari pengaruh dosa yang dilakukan tanpa adanya alasan.

Lafazh niat puasa Kafarat :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ كَفَّارَةً  فَرْضًا       لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا فَرضو بّسوء ڤاݤي سّباݤاي دُندا كارنا الله تَعالَى"

 

 

C.  PUASA  SUNNAT 

Puasa sunnat disebut juga puasa tathowwu’, adalah puasa yang sangat dianjurkan oleh agama. Jika dilakukan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Puasa-puasa yang disunnahkan meliputi : 1). Puasa Senin Kamis;  2). Puasa Syawal;  3). Puasa Arofah;  4). Puasa ‘Asyura’ (10 Muharrom);  5). Puasa Tasu’a’ (9 Muharrom);  6). Puasa Tarwiyah (8 Dzul Hijjah);  7). Puasa Baidh (tengah bulan: tgl 13, 14, 15 tiap bulan qamariyah);  8). Puasa Dawud (sehari puasa, sehari tidak);  9). Puasa di pertengahan awal bulan Sya’ban;  10). puasa di bulan Rajab.

Dalam pembahasan ini difokuskan pada pentingnya menjalankan puasa sunnat Senin dan Kamis, puasa 6 hari di bulan syawwal, puasa 'Arofah, 

1. Puasa Sunnah Hari Senin dan Kamis

Puasa tathowwu’ atau puasa sunnat setiap hari Senin dan Kamis sangat dianjurkan untuk dilakukan kaum muslimin.

Dasar hukum. Betapa pentingnya puasa setiap hari Senin dan Kamis. Karena pada saat itu setiap amal manusia dilaporkan (malaikat) kepada Alloh. Selain itu, sebagai bentuk perasaan gembira menyambut hari kelahiran Nabi SAW, dan hari pengangkatan beliau sebagai Rosul. sebagaimana sabdanya

تُعْرَضُ اْلاَعْمَالُ كُلَّ إِثْنَيْنٍ وَخَمِيْسٍ. فَاُحِبُّ اَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَ اَنَا صَائِمٌ

Artinya: Amal-amal itu ditunjukkan kepada Alloh setiap hari senin dan kamis. Karenanya, aku suka ketika amalku ditunjukkan kepada-Nya ketika aku sedang berpuasa” (HR Ahmad) 

Lafazh niat puasa sunnah Senin / Kamis :

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ ...... ( اْلإِثْنَيْنِ / الْخَمِيْسِ ) سُنَّةً   لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا سُنَّةْ ... (هاري سّنين \ كُميس) بّسوء ڤاݤي كارنا الله تَعالَى" 

2. Puasa Sunnat 6 Hari di Bulan Syawal

Puasa syawal adalah puasa sunat yang dilakukan 6 hari di  bulan syawal (sesudah hari raya idul fitri).

Cara berpuasa-nya boleh dilakukan secara berturut-turut sehabis hari raya, yakni tanggal 2 sampai s/d tanggal 7 Syawal, dan boleh juga tidak berturut-turut tanggalnya, yang penting genap 6 hari di bulan Syawal. Nabi SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ   اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa bulan ramadhan, kemudian diiringi dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa (setahun).” (HR. Muslim, dari Abi Ayyub Al-Anshari).

 Lafazh niat puasa sunnat Syawal :

نَوَيْتُ صَوْمَ  يَوْمٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً      لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا سُنَّةْ سّهاري ديبولان شاوال كارنا الله تَعالَى" 

3. Puasa Arafah

Puasa ‘Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada setiap tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan saat jamaah haji sedang wukuf di Arofah.

Hukum-nya sunnah muakad, kecuali bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji.

Dasar Hukum. Orang yang berpuasa sunnah Arafah akan dihapuskan dosanya selama dua tahun, sebagaimana yang disinggung dalam hadis Nabi. :

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ, فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Artinya: “:Rosululloh SAW pernah ditanya seseorang tentang puasa hari ‘Arafah. Beliau kemudian menjawab: semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah Al-Anshari) 

Lafazh niat puasa sunnah 'Arafah :

نَوَيْتُ صَوْمَ  يَوْمِ عَرَفَةَ سُنَّةً  لِلَّهِ تَعَالَى

ارتيپا : ",اكو نيات ڤواسا سُنَّةْ هاري عَرَفَةْ  كارنا الله تَعالَى"

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar