Rabu, 12 Agustus 2020

8.8. JIWA LEBIH TENANG DENGAN BANYAK MELAKUKAN SUJUD

 

Materi Pembelajaran Kelas VIII SMP

Oleh: Drs. H. A. Suchaimi, MA

GPAI UPT SMPN 5 Gresik

KOMPETENSI (DASAR PENGETAHUAN)

3.8.  Memahami tata cara sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah

KOMPETENSI DASAR (KETRAMPILAN)

4.8.  Mempraktikkan sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah

  

Sujud merupakan satu bentuk kepasrahan dan penghambaan diri kepada Allah Swt. Hanya kepada Allah sajalah manusia itu boleh bersujud. Adapun kepada  sesama manusia kita diperintahkan untuk saling menghormati saja. Pada saat kita sujud maka dahi, telapak tangan, kaki, dan lutut semua menempel ke tanah (alas sujud). Inilah posisi paling ideal sebagai bentuk kepasrahan, ketundukan, dan kepatuhan total kepada Allah Swt.

Sujud sudah sangat lazim dilakukan di dalam salat. Segala macam jenis salat pasti ada sujudnya, kecuali dalam shalat jenazah. Namun pembahasan di sini lebih difokuskan pada bentuk-bentuk sujud di luar sujud shalat, yang meliputi : sujud sahwi, dan sujud tilawah, dan sujud syukur. 

 

A. SUJUD  SAHWI

1.  Pengertian, Hukum dan Sebab-sebab Sujud Sahwi

Setiap manusia tidak pernah luput dari salah dan lupa. Sangat tepat jika ada ungkapan : “أَلإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَإِ وَالنِّسْيَانِ ” (Manusia itu tempatnya salah dan lupa). Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah segera menebusnya dengan bertaubat dan meminta ampunan. Sebaik-baik orang yang lupa di tengah sholatnya adalah segera menebusnya dengan melakukan sujud sahwi di akhir sholatnya, sebagai bentuk pernyataan ketidaksempurnaannya di hadapan Alloh.

Sahwi artinya lupa. Jadi, yang dimaksud Sujud Sahwi adalah sujud dua kali yang dilakukan setelah tahiyat akhir dan sebelum salam, disebabkan karena lupa, ragu-ragu jumlah rekaat, atau melakukan kesalahan tertentu dalam sholatnya.

Hukum Sujud sahwi adalah sunnah bagi setiap orang yang lupa dalam sholatnya, baik bagi orang yang sholat munfarid maupun bagi imam shalat berjamaah. Sedangkan bagi makmum, hukumnya wajib mengikuti imam yang sedang sujud sahwi. Jika imamnya tidak melakukan sujud sahwi, maka makmum tidak boleh sujud sahwi sendiri.

Seseorang disunnahkan sujud sahwi apabila melakukan salah satu sebab berikut :

a. Lupa tidak mengerjakan sunnah ab'adh: yaitu (1) Qunut Subuh, bagi yang biasa qunut, dan (2) tahiyat awal..

Jika yang ditinggalkannya berupa sunnah-sunnah haiat, seperti takbirotul ihrom, doa iftitah, angkat tangan ketika takbir, dll, tidak perlu sujud sahwi.

Nabi Saw bersabda :

إِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ   يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَإِنِ اسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

Artinya: "Bila seorang diantara kalian berdiri sesudah dapat dua rakaat, tetapi ia belum sempurna berdirinya, hendaklah ia segera duduk kembali (untuk tasyahud awal); dan jika ia sudah sempurna berdirinya, maka jangan duduk kembali, dan hendaklah ia sujud sahwi dua kali". (HR Ahmad)

b. Lupa atau ragu-ragu tentang jumlah rakaatnya. Misalnya ragu-ragu dalam shalat 'Isyak, apakah sudah dapat empat rakaat atau baru tiga rakaat. Dalam hal ini, ambillah bilangan yang tersedikit (yakni baru 3 rakaat).

c. Lupa meninggalkan salah satu rukun salat  seperti lupa melakukan rukuk, iktidal, atau sujud. Jika teringat pada rekaat berikutnya, maka rekaat yang kekurangan rukun sholat tersebut tidak dihitung.

d. Lupa kelebihan atau kekurangan rukun.

e. Lupa kekurangan atau kelebihan jumlah rakaat. Dalam kasus rakaat kurang, apabila pada saat shalat ada yang mengingatkan bahwa rakaat salat kita kurang, maka harus segera berdiri, dan melengkapi jumlah rakaatnya, baru kemudian melakukan sujud sahwi. 

2. Kaifiyat (Tatacara) Sujud Sahwi

Setelah selesai membaca tahiyyat akhir dan masih dalam kondisi belum salam, kemudian :

a. Membaca takbir pertama, diteruskan sujud yang pertama sambil membaca tasbih :

سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُوْ

ارتيپا : "ماها سوڇي توهان ياڠ تيداء تيدور دان تيداء لوڤا"

b. Membaca takbir kedua, kemudian duduk.

c. Membaca takbir ketiga, terus sujud yang kedua sambil membaca tasbih seperti di atas.

d. Membaca takbir keempat, lalu duduk dan shalat diakhiri dengan salam dua kali sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

  

B. SUJUD  TILAWAH 

1. Pengertian, Hukum, Penyebab dan tata aturan Sujud Tilawah

Pengertian. Yang dimaksud Sujud Tilawah adalah sujud satu kali yang dilakukan setelah membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat sajdah didalam kitab Al-Qur'an.

Hukum sujud tilawah adalah sunnah. Namun hukumnya wajib bagi makmum yang imamnya melakukan sujud tilawah.

Penyebab. Seseorang disunnahkan melakukan sujud tilawah apabila membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang terdapat didalam salah satu dari 15 tempat. Baik sewaktu dalam keadaan sholat maupun diluar sholat.

Ke-15 tempat tersebut ialah terdapat didalam surat-surat :  Al-A'raf [7] ayat  206;   Ar-Ra'du [13] ayat 15;   An-Nahl [16] ayat 49;  Al-Isra' [17] ayat 109;   Maryam [19] ayat 58;  Al-Hajj [22] ayat 18 dan 77;   Al-Furqan [25] ayat 60;  An-Naml [27] ayat 25; As-Sajdah [32] ayat 15;  Shad [38] ayat 24;  Fush-shilat [41] ayat 38;   An-Najm [53] ayat 62;   Al-Insyiqaq [84] ayat 21;  dan surat Al-'Alaq [96] : 19.  

 

Syarat Sujud Tilawah. Meliputi :

1. Suci dari hadas dan najis

2. Menghadap kiblat

3. Menutup aurat.

Rukun sujud tilawah  meliputi:

1. Niat           

2. Takbiratul ihram

3. Sujud satu kali dengan diawali bacaan takbir

4. Duduk setelah sujud dengan tuma’ninah tanpa membaca tasyahud

5. Salam

Hikmah Melaksanakan Sujud Tilawah,  yaitu:

1. Dijauhkan dari godaan setan.

2.  Lebih menghayati bacaan dan makna al-Qur’an yang sedang dibaca.

3.  Mendekatkan diri kepada Allah Swt. 

2. Kaifiyat (Tatacara) Sujud Tilawah

Jika membaca ayat sajdah itu sewaktu dalam keadaan berdiri sholat, maka caranya :

a. Menghentikan sementara bacaan ayat, kemudian membaca takbir (Alloohu Akbar) dan terus sujud satu kali.

b. Ketika sedang sujud membaca :

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللَّهُ  أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

ارتيپا : "واجاهكو سوجود كّڤادا توهان ياڠ مّنڇيڤتاكان دان مّمبّنتوكپا, ياڠ مّرّكاهكان ڤّىدّڠاران دان ڤّڠليهاتانپا, دّڠان كّكواساأن دان كّكواتانپا. ماها سوڇي الله, سّبايك-۲ ڤّنڇيڤتا"

c. Membaca takbir lagi untuk berdiri, kemudian meneruskan bacaan ayatnya.Jika membaca atau mendengar ayat sajdah itu sewaktu diluar sholat, maka bagi orang yang punya wudhu disunnahkan sujud tilawah. 

Cara sujud tilawah sebagai berikut :

a. Boleh dimulai dari posisi duduk atau berdiri, lalu menghadap ke kiblat, kemudian membaca takbir disertai niat sujud tilawah, terus sujud sekali.

b. Ketika sedang sujud membaca bacaan tasbih seperti di atas.

c. Membaca takbir lagi untuk duduk, diteruskan salam dua kali.

Sedangkan bagi orang yang tidak punya wudhu atau tidak sempat melakukan sujud tilawah, ia disunnahkan untuk menggantinya dengan membaca tasbih berikut ini 3 kali :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ    لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ

Hikmah dan manfaat sujud tilawah adalah sebagaimana yang disabdakan Nabi :

اِذَا قَرَأَ ابْنُ آدمَ السَّجْدَةَ  فَسَجَدَ اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِيْ يَقُوْلُ : يَا وَيْلَتَا أُمِرَ ابْنُ آدمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَ أُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. (مسلم)

ارتيپا : "اڤابيلا مانوسيا مّمباڇا أيات سَجْدَة ماكا شيطان مّڠهيندار سامبيل مّناڠيس دان مّپّسال: سوڠݤوه ڇّلاكا, مانوسيا ديسوروه سوجود, لالو ديا سوجود, سّداڠ اكو ديسوروه سوجود تّتاڤي تيداء ماو. كارنا ايتو سايا ماسوء نّراكا"  


C. SUJUD  SYUKUR

 1. Pengertian, Hukum dan Penyebab Sujud Tilawah

Pengertian. Sujud syukur adalah sujud sekali yang dilakukan diluar sholat sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh atas berbagai nikmat dan terhindar dari berbagai musibah.

Hukum Sujud syukur adalah sunnah, yang dilakukan setelah memperoleh nikmat dan terhindar dari musibah. Betapapun kecil nikmat tersebut. Rosululloh SAW melakukan sujud syukur setiap kali mendapatkan nikmat dan kabar gembira, sebagaimana riwayat dari Abu Bakrah, berikut : 

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَاءَ هُ خَبَرٌ يَسَّرَهُ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا  لِلَّهِ  تَعَالَى

Artinya: "Sesungguhnya Nabi SAW ketika menerima kabar yang menggembira kannya, beliau bersujud sebagai tanda rasa syukur kepada Alloh". (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). 

2. Kaifiyat (Tatacara) Sujud Syukur

Sujud syukur dilaksanakan di luar sholat, dengan syarat-syarat sebagaii berikut :

a. suci dari hadas, baik hadas kecil maupun hadas besar

b. tempat, badan dan pakaian suci dari najis

c. menutup aurat

d. menghadap ke kiblat.

 

Kaifiyat sujud syukur :

a. Boleh dimulai dari posisi duduk atau berdiri sambil menghadap ke kiblat, lalu membaca takbir disertai niat sujud syukur, kemudian diteruskan sujud sekali.

b. Ketika sujud membaca bacaan tasbih seperti bacaan sujud tilawah.

c. Membaca takbir lagi untuk duduk. Kemudian mengucapkan salam dua kali sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar