Minggu, 02 Agustus 2020

7.2. HIDUP JADI LEBIH DAMAI DENGAN IKHLAS, SABAR, DAN PEMAAF

Materi Pembelajaran Kelas VII  SMP

Penulis : Drs. H. A.  Suchaimi, MA

GPAI UPT SMPN 5 Gresik

Kompetensi Dasar Pengetahuan

3.2. memahami QS An-Nisa’ (4): 146, QS Al-Baqoroh (2): 153,  QS Ali Imran (3) : 134, serta Hadis terkait tentang ikhlas, sabar dan pemaaf

 

Kompetensi Dasar Keterampilan

4.2.1. membaca QS An-Nisa’ (4): 146, QS Al-Baqoroh (2): 153,  QS Ali Imran (3) : 134 dengan tartil

4.2.3. menyajikan keterkaitan ikhlas, sabar dan pemaaf dengan pesan QS An-Nisa’ (4): 146, QS Al-Baqoroh (2): 153,  QS Ali Imran (3) : 134

 

A.   MEMBACA Q.S.AN-NISA’/4:146;  AL-BAQARAH/2:153; ALI IMRAN/3:143, DAN HADIS TERKAIT

 

1. Membaca Q.S.An-Nisa’/4:146

إِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَ أَصْلَحُوْا وَ اعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَ أَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَأُولٰـئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۖ  وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَجْرًا عَظِيْمًا

2. Membaca Q.S. al-Baqarah/2: 153

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلٰــوةِۚ  إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ   

3. Membaca Q.S. Ali-Imran/3: 134

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ الْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَ الْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَ اللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (ٰ۱۳۴) 

4. Memahami Ilmu Tajwid Tentang Hukum Bacaan Nun Sukun/Tanwin.

Hukum bacaan Nun Sukun ( نْ ) dan Tanwin (ـً  ـٍ ـٌ   ) bertemu dengan huruf Hijaiyah ada 5 macam, yaitu :

1). Izh-har Halqi;  

2). Idghom Bighunnah;

3). Idghom Bila Ghunnah; 

4). Iqlab,  

5). Ikhfa’

 

1.  Izh-har Halqi (إِظْهَار حَلْقِي), yaitu apabila nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu dari 6 huruf izhar, yang meliputi:” ء , هـ, ح, خ, ع, غ   maka bunyi bacaan nun sukun/tanwin tersebut dibaca jelas

2.  Idghom Bighunnah (إِدْغَامْ بِغُنَّةْ), yaitu apabila nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu dari 5 huruf idghom bighunnah, yang meliputi:” ي, ن, م, و  maka bunyi bacaan nun sukun/tanwin tersebut hilang dan dilebur kedalam huruf-huruf tersebut disetai dengan mendengung. .

3.  Idghom Bila Ghunnah (إِدْغَامْ بِلَا غُنَّةْ), yaitu apabila nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu dari 2 huruf:” ل, ر   maka bunyi bacaan nun sukun/tanwin tersebut hilang, namun dilebur kedalam huruf-huruf tersebut tanpa disetai mendengung

4.  Iqlab (إِقْلَاب), yaitu apabila nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu dari huruf:” ب  maka bunyi bacaan nun sukun/tanwin dibaca beralih menjadi mim mati

5.  Ikhfa’ (إخْفَاءْ), yaitu apabila nun sukun/tanwin bertemu dengan salah satu dari 15 huruf ikhfa’ yang meliputi:” ص  ذ ث ك ج ش ق س د ط ز ف ت ض ظ  maka bunyi bacaan nun sukun/tanwin tersebut dibaca samar. 

 

B.  ARTI DAN ISI KANDUNGAN AYAT AL-QUR’AN TENTANG IKHLAS, SABAR, DAN PEMAAF

 

1. Arti Terjemahan Dan Isi Kandungan  Q.S.An-Nisa’/4:146  Tentang Ikhlas

* Arti Terjemahan Q.S.An-Nisa’/4:146 

أرتيۑا: "كٓڇوالي اوراڠ-٢ ياڠ بٓرتاوبات دان مٓڠاداكان فٓربايكان دان بٓرفٓݤاڠ تٓݤوه ڤادا (اݤاما) الله دان تولوس إخْلاص (مٓڠٓرجاكان) اݤاما مٓرٓكا كارنا الله, ماكا مٓرٓكا ايتو ادالاه بٓرساما-٢ اوراڠ-٢ ياڠ بٓريمان دان كٓلاء الله اكان مٓمبٓريكان كٓفادا اوراڠ-٢ ياڠ بٓريمان ڤاهالا ياڠ بٓسار".  (سورة النساء: ۱٤٦)

 * Isi Kandungan Q.S.An-Nisa’/4:146:

Kandungan Q.S.An-Nisa’/4:146 menjelaskan tentang keikhlasan amal seseorang. Ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya amal.

Menurut bahasa, ikhlas artinya murni. Sedang menurut istilah, ikhlas artinya menjalankan amal ibadah murni hanya karena Allah dan semata mata untuk mendapat ridho Allah.

Tanda tanda amal ibadah yang ikhlas adalah amal ibadah yang dikerjakan bukan karena mengharapkan pujian orang, bukan karena pamer dan tidak membangga banggakan amal tersebut di hadapan manusia, apalagi di hadapan Allah. Ia merasa masih banyak kekurangan-kekurangannya dalam menjalankan ibadah itu. Ia merasa bahwa menjalankan ibadah itu adalah karena pertolongan dan rahmat dari Allah. Tanpa pertolongan Allah ia tidak akan mampu berbuat apa pun.

Ikhlas adalah ruhnya setiap amal ibadah. Amal ibadah atau amal perbuatan apa saja yang tidak dilakukan dengan ikhlas, ibarat tubuh tanpa ruh. Karena itu kita harus melatih diri ikhlas dalam setiap melakukan amal ibadah. Tanpa latihan kita tidak adak akan terbiasa bersikap tulus dan ikhlas.

Pada mulanya kita memang belum bisa ikhlas, baik dalam shalat, infaq, berbuat baik kepada sesama, berbakti kepada orang tua dan dalam amal amal yang lain, tetapi kita tidak boleh berhenti beramal, teruskan saja sampai menjadi kebiasaan dan nanti akan muncul dan tumbuh dengan sendirinya ketulusan dan keikhlasan itu berkat pertolongan Allah. 

2. Arti Terjemahan Dan Isi Kandungan Q.S. al-Baqarah/2: 153

     * Arti Terjemahan Q.S. al-Baqarah/2: 153

أرتيۑا: "واهاي اوراڠ-٢ ياڠ بٓريمان, جاديكانلاه صَبَر دان صَلَاة سٓباݤاي ڤٓنولوڠمو, سٓسوڠݤوهۑا الله بٓسٓرتا اوراڠ-٢ ياڠ  صَبَر".  (سورة البَقَرَة : ۱٥۳) 

* Isi Kandungan Q.S. al-Baqarah/2: 153

Kandungan Q.S. al-Baqarah/2:153 menjelaskan orang-orang yang sabar. Kita akan diberi pertolongan oleh Allah SWT kalau kita bersikap sabar dan tetap menjalankan shalat, bahkan bisa memperbanyak shalat shalat sunnat Sesungguhnya Allah  Swt. beserta orang-orang yang sabar.

Sabar merupakan pengendali hati untuk selalu Istiqamah dalam berbuat baik. Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan

الصَّبْرُ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

“Sabar adalah bagian dari iman,sebagaimana kepala bagian dari tubuh”.

 Sabar bisa diartikan tabah, tahan menderita, ulet, tekun, dan tidak mudah putus asa. Sabar juga bisa berarti menahan, maksudnya adalah menahan diri dari kesusahan yang menimpanya, menahan lisan atau anggota badan dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik, serta menahan rasa malas untuk berbuat baik.

Sabar juga berarti menahan diri untuk tidak melampiaskan nafsu angkara murka, mengendalikan lidah untuk tidak berkeluh kesah, dan mengontrol anggota tubuh untuk tidak bertindak anarki.

Sabar tidak sama dengan pasrah. Kalau sabar, menerima keadaan/kenyataan dengan tulus sambil berusaha merubah keadaan agar menjadi lebih baik. Sedangkan pasrah, menyerah terhadap keadaan/kenyataan tanpa usaha. 

Macam macam sabar:

1. Sabar dalam menjalankan perintah Allah.

Apapun perintah Allah, kita tidak akan bisa menjalankannya kalau tidak disertai sikap sabar. Sholat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada sesama, menjaga kebersihan dan kesehatan, membela kebenaran, memperjuangkan agama Islam dan lain lain, semuanya membutuhkan kesabaran.

2. Sabar dalam menjauhi larangan Allah

Ketika ada keinginan dari nafsu hendak melanggar larangan Allah, maka ketika itu kita butuh sikap sabar, menahan diri, sehingga pelanggaran itu tidak akan terjadi. Sebaliknya, jika tidak punya sikap sabar dalam menahan diri, maka kita akan selalu menuruti nafsu melanggar larangan Allah.

3. Sabar dalam menghadapi dan mengalami musibah/ujian.

Setiap orang yang beriman pasti diuji oleh Allah, baik ujian yang berupa kesenangan dan kenikmatan, maupun ujian yang berupa kesedihan atau sesuatu yang menyakitkan. Ujian itu diberikan oleh Allah untuk menaikkan tingkat dan derajat iman. Karena itu orang yang beriman mesti tahu makna dan hikmah di balik ujian, ia sadar bahwa ujian itu memang diperlukan, sehingga ia siap menghadapi dan mengikuti ujian itu dengan tulus dan penuh kesabaran. 

Cara melatih diri bersikap sabar:

1.   memahami dan menyadari tentang manfa’at dan pentingnya melaksanakan perintah Allah.

2. memahami dan menyadari tentang manfa’at dan pentingnya menjauhi larangan Allah.

3. memahami dan menyadari bahwa dalam setiap musibah dan ujian itu terdapat pelajaran dan hikmah yang sangat berharga.

4. membiasakan diri melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dengan ceria dan enjoy.

5. memperbanyak berdo’a dan mendekatkan diri kepada Allah, yakinlah bahwa hanya Allah-lah yang dapat memberi sikap sabar pada diri kita.

 

3. Arti Terjemahan Dan Isi Kandungan Q.S. Ali-Imran/3: 134

 * Arti Terjemahan Q.S. Ali-Imran/3: 134

أرتيۑا: "دان بٓرسٓݤٓراهلاه كامو كٓڤادا امڤونان داري توهانمو دان كٓڤادا سورݤا  ياڠ لواسۑا سٓلواس لاڠيت دان بومي ياڠ ديسٓدياكان اونتوء اوراڠ-٢ ياڠ  بٓرتّقْوَى. (ياإيتو) اوراڠ-٢ ياڠ مٓنافكاهكان (هارتاۑا), بايك ديواقتو لاڤاڠ ماوڤون سٓمڤيت, دان اوراڠ-٢ ياڠ مٓناهان اماراهۑا دان مٓماعافكان (كٓسالاهان) اوراڠ-٢. الله مٓۑوكاي اوراڠ-٢ ياڠ  بٓربوات كّباجيكان ".  (سورة ألِ عِمْران: ۱٣٣- ۱۳٤)

* Isi Kandungan Q.S. Ali-Imran/3: 134

Kandungan Q.S. Ali-Imran/3:134 menjelaskan ciri-ciri orang yang taqwa, yaitu selalu memaafkan orang lain. Dari ayat diatas kita bisa mengambil pelajaran :

1.   Kita diperintah agar segera memohon ampunan Allah

2.   Kita diperintah segera mengerjakan amal-amal yang dapat mengantarkan kita ke surga

3.   Surga yang yang digambarkan seluas langit dan bumi itu disiapkan buat orang yang takwa

4.   Diantara tanda tanda orang yang takwa adalah mau berinfaq, mampu menahan marah dan mau mema’afkan orang lain.

5.   Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan, yaitu orang yang gemar berinfaq, yang mampu menahan marah dan yang mau mema’afkan kesalahan orang lain.

Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita untuk saling memaafkan dan meminta maaf, sebagaimana sabdanya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, قَالَ رَسُوْلُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَاعْفُ مَنْ ظَلَمَكَ.  (رواه الْبَيْهَقِي)

 Artinya:“Dari Aisah dari Anas berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sambunglah tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskanmu dan maafkanlah orang-orang yang mendzalimimu“. (H.R. Baihaqi)

 Pemaaf berarti orang yang rela memberi maaf kepada orang lain. Sikap pemaaf berarti sikap suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa sedikit pun ada rasa benci dan keinginan untuk membalasnya. Dalam bahasa Arab sikap pemaaf disebut al-‘afw, yang juga memiliki arti bertambah (berlebih), penghapusan, ampunan, atau anugerah.

Orang yang suka memaafkan akan mendapatkan balasan / pahala yang sangat besar dari sisi Allah. Sebagaimana firman-Nya:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَاۖ فَمِنْ عَفَا وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۚ. إِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ۝

Artinya:“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, (namun)  siapa saja yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. 43 Asy-Syura 40)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita boleh membalas kejahatan dengan sepadan, tetapi jika kita mau mema’afkan, maka itu lebih baik. Dan Allah SWT suka kepada orang yangberbuat kebaikan, sehingga Allah menjanjikan pahala baginya. 

Meneladani Allah SWT, Maha Pema’af.

Allah memiliki Asma Al-Ghoffar, Al-Ghofur dan Al-‘Afuwwu yang berarti Maha Pengampun, Maha Pema’af.  Berapa banyak manusia yang durhaka kepada Allah, berapa banyak manusia yang melanggar larangan Allah dan berapa banyak manusia yang tidak mau melaksanakan perintah Allah, tetapi Allah SWT Maha Pengampun. Jika manusia mau bertobat dan memohon ampun, maka Allah berkenan mengampuninya. 

Meneladani Sifat Pemaa’af Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW itu sebagai Uswah Hasanah (teladan yang baik) bagi kita semua. Kalau Rasulullah SAW memiliki sifat sifat utama seperti pema’af, maka kita pun wajib mencontoh beliau, sebagai seorang pema’af. Berikut ini beberapa contoh sifat pema’af Raulullah SAW :

1. Ketika berdakwah, mengajak penduduk Tha’if beriman kepada Allah, bukan penerimaan yang beliau terima, malah lemparan batu dan caci maki. Malaikat menawarkan bantuan kepada Nabi untuk menghancurkan penduduk Tha’if, tatapi Nabi tidak setuju, bahkan beliau berdo’a untuk kebaikan mereka, “Ya Allah, berikan petunjuk/hidayahMu kepada mereka, sebab mereka tidak mengerti (kalau aku ini utusanMU)”.

2. Beliau pernah akan dibunuh oleh Suroqoh karena tertarik pada hadiah 100 unta bagi yang bisa membunuh Nabi SAW. Tetapi ia gagal. Dan ketika beliau ada kesempatan membalas, beliau tidak membalasnya, bahkan mema’afkannya.

3. Beliau terluka dan beberapa gigi yang mulia  tanggal pada waktu perang Uhud. Para sahabat mendesak beliau agar mendo’akan kejelekan dan melaknat mereka (orang orang kafir). Nabi SAW menjawab, “Aku diutus bukan untuk melaknat, tetapi diutus sebagai rahmat. Ya Allah... berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti”.

4. Orang orang kafir Quraisy yang dahulu begitu kejam menghina dan menyiksa beliau dan para sahabat, pada waktu Futuh Makkah (Kemedekaan kota Mekkah dari kekuasaan kafir Quraisy)

     beliau tidak balas dendan tetapi mema’afkan mereka, sihingga mereka berbondong bondong masuk agama Islam.

Contoh sifat pema’af Nabi SAW masih banyak sekali dan semuanya sangat berkesan, menunjukkan betapa agung kepribadian dan akhlak beliau. Kita yang mengaku sebagai umat beliau, wajib mencontoh dan menteladani sifat beliau sebagai seorang pema’af. 

Hikmah dan manfaat sifat Pema’af :

1.   Memperkuat hubungan persaudaraan

2.   Menghilangkan beban permusuhan dari dalam hati

3.   Menciptakan suasana kehidupan yang rukun dan damai

4.   Diampuni dosanya

 

 


Selasa, 28 Juli 2020

9.2. MENYUBURKAN KEBERSAMAAN MELALUI SIKAP TOLERANSI & MENGHARGAI PERBEDAAN

Materi Pembelajaran Kelas IX  SMP

Penulis : Drs. H. A.  Suchaimi, MA

GPAI UPT SMPN 5 Gresik 

Kompetensi Dasar Pengetahuan

3.2. memahami QS Al-Hujurat (49) : 13 tentang toleransi dan menghargai perbedaan dan Hadis terkait.

Kompetensi Dasar Keterampilan

4.2.1. membaca QS Al-Hujurat (49) : 13  dengan tartil

4.2.3. menyajikan keterkaitan toleransi dan menghargai perbedaan dengan pesan QS Al-Hujurat (49) : 13


A. MEMBACA AYAT Q.S. AL-HUJUROT [49] : 13 TENTANG TOLERANSI & MENGHARGAI PERBEDAAN 

يَـآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰـكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَّ أُنْثَى وَ جَعَلْنٰـكُمْ شُعُوْبًا  وَّقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْاۚ  إِنَّ أَكْرَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقٰـكُمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝ 

 

B.  MEMAHAMI ILMU TAJWID TENTANG TANDA WAQOF DAN WASHOL

Waqof artinya berhenti, yakni menghentikan bacaan sementara, sekedar mengambil nafas karena ada sebab tertentu atau berkaitan dengan makna ayat yang dibaca.

Washol artinya terus (tidak berhenti), yakni bacaan tidak boleh atau tidak baik berhenti karena berkaitan dengan makna ayat yang dibaca.

Dalam mush-haf Al-Qur’an terdapat tanda tanda waqof dan tanda tanda washol sebagai panduan/ rambu bagi para pembaca Al-Qur’an, sehingga tidak membingungkan para pembaca dan penyima’ (pendengar) 

Tanda Waqof

Nama Waqof & artinya

Contoh

م

Lazim,

(Harus berhenti)

... وَمَا هُمْ بِـمُؤْمِنِيْنَ  ۘ

ط

MUTLAQ,

(layak untuk berhenti)

وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ؕ

ۚ

JAIZ,

(Boleh berhenti)

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ أٰمَنُوْا ۚ  وَمَا يَخْدَعُوْنَ ....

قف |

ۗ

AL WAQFU AULA,

(Lebih utama  berhenti)

قَالُوْآ  أَنُؤْمِنُ كَمَآ أٰمَنَ السُّفَهَآءُ ۗ  أَلَآ إِنَّهُمْ ....

ۖ

AL WASHLU  AULA,

(Lebih utama terus)

أُولـٰــئِكَ عَلَٰى هُدًى مِنْ رَّبِّهِمْۖ   وَ أُولـٰــئِكَ هُمُ الْمُفْلَحُوْنَ  ۝

ۙ

‘ADAMUL WAQFI,

(tidak boleh berhenti)

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ ۙ فَزَادَ هُمُ اللّٰهُ مَرَضًا .....

 ¡Ï......¡

 

MU’ANAQOH,

(Boleh berhenti pada salah satu tanda "titik tiga".)

ذَالِكَ الْكِـتٰبُ لَا رَيْبَ  ؞ فِيْهِ ؞  هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ ۝

سكتة / س

SAKTAH

(Berhenti sejenak kira-kira 2harokat dan tanpa nafas, lalu meneruskan bacaan)

قَالُوْا يٰـوَيْلَنَا مَنْۘ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَاۜ  هٰـذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰـنُ

  

C. MENGARTIKAN Q.S. AL-HUJUROT [49] : 13 

1. Arti Terjemahan Q.S. AL-HUJUROT [49] : 13

ارتيپا : "واهاي مانوسيا, سّسوڠݤوهپا كامي تٓلاه مٓنچيڨتاكان كاليان داري سٓئوراڠ لٓلاكي دان سٓئوراڠ ڤٓرٓمڤوان.  كٓموديان كامي جاديكان كاليان بٓرباڠسا٢ دان بٓرسوكو٢ اڮار كاليان ساليڠ مٓڠٓنال. سٓسوڠڮوهۑا ياڠ ڤاليڠ موليا ديأنتارا كاليان دي سيسي الله ادالاه اوراڠ ياڠ ڤاليڠ برتَقْوَا. سّسوڠݤوهپا الله ماها مٓڠٓتاهوي لاڮي ماها تٓليتي ". {سورة الحجرات : ۱۳} 

2. Isi kandungan Q.S. AL-HUJUROT [49] : 13

Asbabun Nuzul Q.S. Al-Hujurat: 13, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim al-Hakim yang bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah, dia mengemukakan: "Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), Bilal naik ke atas Ka'bah untuk mengumandangkan adzan. Beberapa orang berkata: "Apakah pantas budak hitam ini adzan di atas Ka,bah?", Maka berkatalah yang lainnya: "Sekiraanya Allah membenci orang ini,  pastilah Dia akan menggantikannya". Ayat ini (Q.S. Al-Hujurat: 13)  turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.

Q.S. Al-Hujurat ayat 13 ini menegaskan kepada semua manusia pada umumnya, bahwa

1. Seluruh umat manusia dengan berbagai perbedaannya : kebangsaan, kesukuan, ras, agama, karakter, tradisi, budaya, bentuk fisik, warna kulit, dll, adalah berasal dari satu keturunan yang sama, yakni Nabi Adam dan Hawa’.

Berdasarkan asal usul kemanusiaan ini, maka seluruh umat manusia memiliki kedudukan yang sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih unggul & mulia dari pada manusia lainnya.

2. Alloh sengaja menciptakan umat manusia secara berbeda-berbeda tersebut adalah agar mereka saling mengenal, saling memahami, saling menghormati, saling bersikap toleran dan menghargai perbedaan tersebut.

3.. Kita tidak boleh membeda-bedakan, mendiskreditkan & melakukan diskriminasi, memperlakukan secara tidak adil, dan sejenisnya terhadap orang lain yang berbeda bangsa, suku, ras, warna kulit, agama, budaya, tradisi dan bentuk fisik lainnya. Sebab di hadapan Alloh, kedudukan manusia adalah setara dan sederajat. Yang menentukan seseorang itu lebih mulia & unggul atas orang lain adalah nilai ketakwaannya kepada Alloh.

إِنَّ  أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ اَتْقَاكُمْ

سٓسوڠڮوهۑا ياڠ ڤاليڠ موليا ديأنتارا كاليان دي سيسي الله ادالاه اوراڠ ياڠ ڤاليڠ بٓرتاقوا

 

D. TOLERANSI & MENGHARGAI PERBEDAAN 

Secara kodrat, manusia terlahir dengan memiliki banyak perbedaan. Terutama di tanah air Indonesia ini terdapat masyarakat yang beraneka ragam (bhineka), mulai dari perbedaan budaya, suku, ras, agama, dan yang lainnya. Tetapi manusia dituntut agar bisa hidup di antara perbedaan itu, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Faktanya tidak semua orang bisa hidup di tengah perbedaan, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda dengan dirinya, dan hanya ingin menunjukkan dirinya tanpa menghargai yang lain. Sehingga melahirkan berbagai bentuk konflik di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kita harus menjunjung tinggi sikap toleransi dan menghargai perbedaan ketika hidup di tengah-tengah masyakat yang majemuk ini.

Rasulullah saw. berpesan agar kita senantiasa bertoleransi dan menghargai perbedaan, sebagaimana yang disinggung dalam hadis berikut ini:

إِنَّ  اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُم وَ لَكِنَّ  إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى أَعْمَالِكُمْ وَ قُلُوبِكُمْ  (رواه ابن ماجه) 

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah yang dimarfu’kan kepada Nabi saw.. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian.” (H.R. Ibnu Majah) 

Toleransi, dalam Islam, lebih dikenal dengan istilah TASAMUH. Yaitu sikap tenggang rasa, membiarkan, menghargai dan menghormati apa yang dilakukan orang lain.

 

Membiasakan Berperilaku Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

Memiliki sikap toleransi adalah suatu keharusan dalam Islam, Islam sendiri mengandung pengertian agama yang damai,  selamat dan menyerahkan diri. Islam adalah rohmatal lil ‘alamiin (agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam). Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati, tanpa paksaan dan diskriminasi .

Dalam sejarah Islam, Nabi telah memberikan banyak contoh yang mengajarkan kepada kita pentingnya toleransi. Diantaranya; diceritakan Nabi Muhammad saw memberi makan seorang Yahudi miskin setiap hari dengan terus menghargai keyakinannya dan tanpa memaksakan agama Islam kepadanya. Dalam kisah lain diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwa suatu ketika ada jenazah orang Yahudi melintas disebelah Nabi saw dan para sahabat, seketika Nabi saw berhenti dan berdiri. Kemudian salah seorang sahabat berkata: kenapa engkau berhenti ya Rasulullah. Padahal itu adalah jenazah orang Yahudi? Nabi bersabda : bukankah dia juga manusia?. Subhanallah!

 

Toleransi dalam kehidupan beragama.

Di Indonesia dikenal adanya 3 bentuk kerukunan yang perlu diwujudkan melalui sikap toleransi dalam kehidupan beragama, yaitu :

1). kerukunan intern umat beragama,

2). kerukunan antar umat beragama, dan

3). kerukunan umat beragama dengan pemerintah.

Untuk mewujudkan Kerukunan antar umat beragama, yaitu antara umat Islam dengan non muslim, maka ruang lingkup Tasamuh /toleransi  nya adalah sebatas pada :

1). Sikap menghormati dan tenggang rasa terhadap keyakinan dan agama yang dianut oleh non muslim.

2). Kita tidak boleh mengganggu proses peribadatan mereka, apalagi memaksa mereka masuk Islam.

3). Kita tidak boleh mengikuti, meniru-niru, membantu, atau ikut serta dalam peribadatan mereka. Termasuk mengucapkan “Selamat” atas hari raya mereka, seperti Selamat Hari Natal, Selamat Hari Waisak, Selamat Hari Paskah,dll. Karena yang demikian ini secara tersirat membenarkan dan mengakui aqidah dan keyakinan mereka. 

Prinsip yang perlu kita pegang dalam kehidupan beragama ini adalah QS Al-Kafirun : 1-6, terutama ayat 6:

قُلْ يَآ أَيُّهَا الْكـٰـفِرُوْنَ  *  لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ * وَ لَآ أَنْتُمْ عٰـبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ *  وَ لَآ أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُمْ * وَ لَآ أَنْتُمْ عٰـبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ * لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَ لِيَ دِيْنِ * 

Artinya: "Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu pun tidak perlu menyembah Tuhan yang aku sembah.  Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,  dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu urusan agamamu, dan untukku urusan agamaku"

 

Toleransi / Tasamuh dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sangat dibutuhkan sikap Toleransi/Tasamuh, antara lain dalam bentuk  sikap saling menghormati, saling menolong dan tidak saling mengganggu, tidak melakukan diskriminasi dan tidak membedakan-bedakan suku, ras, agama dan budaya masyarakat.

Alloh berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَىۖوَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ

Artinya : ".......dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran .... " (QS Al-Maidah" 2)

Nabi bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ  ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

Artinya: "Tidak dikatakan beriman seorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR Muttafaq 'Alaih).

Melalui sikap toleransi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan ini diharapkan akan terwujud suatu kehidupan yang harmonis, aman, tentram dan damai di tengah masyarakat, sekaligus akan tercipta persatuan dan persaudaraan sesama umat manusia

 

Hikmah dan Nilai-nilai positif Toleransi

a. Menjalin ukhuwah (persaudaraan), persatuan dan kesatuan masyarakat

b. Menciptakan keharmonisan dalam kehidupan

c. Menimbulkan sikap saling menghormati antar sesama

d. Menciptakan rasa aman, tentram, tenang dan damai dalam masyarakat

e. Meghilangkan hasud, fitnah, kebencian, dendam dan permusuhan